Minggu, 07 November 2010

Kearifan Lokal/Local Wisdom

Kearifan Lokal/Local Wisdom
Berbudi Luhur Dalam Menghargai Alam



Hidup adalah suatu proses. Proses itu sendiri adalah perubahan yang membutuhkan momentum yaitu waktu, tempat dan energi/tenaga serta sarana/alat. Namun ada hal yang paling penting dari sebuah perubahan, yaitu hal atau sebab yang mendasari terjadinya sebuah perubahan itu sendiri. Artinya adalah ada sebab yang mengakibatkan terjadinya sebuah proses perubahan. Begitu juga manusia sebagai makhluk sosial bermasyarakat -yang tercipta dengan akal dan pikiran sehingga mampu berinovasi melalui daya-cipta-rasa dan karsa- dipastikan akan selalu mengalami perubahan-perubahan sebagai akibat yang ditimbulkan oleh faktor lingkungan, baik alam atau masyarakat itu sendiri. Dibutuhkan sebuah metode atau cara untuk meng-counter perubahan-perubahan tersebut. Salah satunya melalui adat, tradisi dan budaya yang didalamnya terkandung esensi Kearifan Lokal.

Global warmming telah melanda alam ini, merusak dan menghancurkan unsur-unsur yang ada, sehingga mengganggu keseimbangan hidup manusia dan lingkungannya. Ada peran yang besar pada diri manusia atas terjadinya global warming ini. Ilmu dan tekhnologi turut menjadi andil yang besar di dalamnya. Kerusakan-kerusakan alam yang tidak terkendali membawa akibat terjadinya bencana. Sudah saatnya kita mulai introspeksi diri untuk mencegah dan memperbaiki apa yang telah kita perbuat terhadap kerusakan-kerusakan alam dan lingkungan. Sudah menjadi keharusan bagi kita sebagai manusia yang berakal dan berbudiluhur untuk memberi sumbangsih bagi terjaganya keseimbangan dan kelestarian alam.




Prolog

“ Menghargai Alam adalah Menghargai Hidup “
“ Belajar dan Berdialoglah dengan Alam, temukan makna hidup yang terkandung di dalamnya“

Sejarah dan latar belakang Kearifan Lokal sebagai cermin budaya sosial masa lalu.


Sebagai manusia, selain menjadi makhluk indifidu, juga sekaligus sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat. Manusia sebagai makhluk sosial sangat bergantung dengan lingkungannya, baik alam ataupun masyarakat. Ketergantungan manusia dengan lingkungannya ini harus diimbangi dengan hubungan yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme yang harus dijaga dan dihormati.
Begitu banyak cara untuk menciptakan sebuah proses simbiosis mutualisme agar terus bisa berjalan dengan baik. Sebagai manusia kita telah di bekali akal dan pikiran, sehingga mempunyai daya-cipta-rasa dan karsa, dan mampu menggunakannya dengan sebaik-baiknya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi alam dan lingkungannya. Salah satu hasil dari daya-cipta-rasa dan karsa manusia adalah kebudayaan yang didalamnya terkandung nilai-nilai Kearifan Lokal yang erat hubungannya dengan kehidupan sosial manusia dalam bermasyarakat.
Sejarah telah bercerita bahwa nenek moyang pendiri Nusantara mampu membuktikannya. Mereka tidak pernah berdiam diri dalam menghadapi perubahan dan dituntut mampu berkreatifitas dan berinovasi dengan penemuan-penemuan baru. Salah satunya melalui adat, tradisi dan budaya yang didalamnya terkandung esensi Kearifan Lokal.
Nusantara sangat kaya akan adat, tradisi dan budaya yang berkembang dari masa ke masa. Dari keberagaman tersebut ada banyak peluang untuk mengembangkan wacana kearifan lokal. Maka eksistensi kearifan lokal Nusantara menjadi lahan yang cukup subur untuk digali dan dianalisis sehingga dapat memberi inspirasi dan cerminan budaya sosial yang mampu mensejahterakan. Keberagaman itu  juga merupakan manifestasi gagasan dan nilai-nilai luhur bangsa.
Kearifan Lokal Nusantara adalah energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif untuk hidup di atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan hidup yang berkeadaban. Hidup rukun, damai, bermoral, saling asih, asah, dan asuh. Hidup dalam keberagaman. Hidup penuh maaf dan pengertian. Hidup toleran dan jembar hati. Hidup dalam harmoni lingkungan. Hidup dengan orientasi nilai-nilai yang membawa pada pencerahan. Hidup untuk menyelesaikan persoalan-persoalan berdasarkan mozaik nalar kolektif sendiri dan masyarakat. Kearifan seperti itu tumbuh dari dalam lubuk hati yang disertai nilai-nilai budi pekerti yang luhur.
Kehidupan ini tidak lepas dari unsur alam, karena kita sebagai manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam. Alam merupakan unsur terbesar ciptaan Tuhan yang memberi begitu banyak manfaat bagi kehidupan kita. Karenanya sudah selayaknya kita berkewajiban untuk menjaga, merawat dan melestarikannya, bukan sekedar memanfaatkannya. Dengan menjaga, merawat dan melestarikannya, berarti kita secara tidak langsung telah mensyukuri karunia dan amanah Tuhan.
Untuk menjaga, merawat dan melestarikan alam, kita membutuhkan pemahaman dan perenungan yang mendalam mengenai konteks alam sebagai ciptaan Tuhan. Untuk memahami alampun, kita membutuhkan pemahaman yang menyeluruh baik manfaat, fungsi dan pelestariannya sebagai salah satu harta titipan anak cucu kita. Tidak mudah memahami alam, perlu perenungan yang  mendalam melalui pola pikir yang tepat dan didasari dengan kesungguhan hati yang berbudiluhur.
Sudah terlalu sering kita melihat dan mendengar kerusakan-kerusakan alam yang diakibatkan kesalahan kita dalam memahami menjaga alam sehingga berakibat hancurnya struktur dan keseimbangan kehidupan yang akhirnya berbalik menjadi bumerang bagi kita. Tangan dan ambisi sesaat meluluhlantakkan  kelestarian alam yang dianugerahkan Tuhan pada kita. Sengaja atau tidak, tahu atau pura-pura tidak tahu, kita telah mengingkari amanah Tuhan, bahkan  -kalau boleh berkata jujur-,  kita telah merusak sunatullah. Seluruh alam ini telah di perintahkan tunduk dan patuh padaNya tanpa terkecuali, tapi sebagai manusia yang dianugerahi keistimewaan dengan akal dan pikiran, ternyata tidak mampu menggunakannya secara bijak.
Jangan salahkan alam atau Tuhan. Ketika alam yang telah dirusak, disia-siakan dan di hancurkan keseimbangannya itu menggunakan sunatullahNya, maka semua kembali pada sunahNya, memperbaiki diri secara alami, menyembuhkan kerusakannya sendiri. Melalui unsur-unsur yang masih tersisa, alam akan bicara, dan menggunakan kekuatannya untuk merangkai energi yang dahsyat untuk mengembalikan keseimbangannya. Maka, apa yang sering di sebut sebagai “ b e n c a n a “ akan di perlihatkan. Tuhan akan bicara melalui tangan alam.
Telah ditunjukan kesalahan-kesalahan kita secara kasat ataupun nyata. Masihkah kita akan menutup mata, telinga dan hati ?.
            Sesungguhnya kita mampu mencegah semua kerusakan-kerusakan alam dan akibat-akibat yang menyertainya. Pelestarian dan pemanfaatan alam yang baik dan tepat guna mampu menjaga keseimbangannya. Ambil apa yang hanya kita butuhkan dan perlukan tanpa berlebihan, lalu berikan apa yang menjadi haknya, adalah pelestarian. Hargai alam seperti kita menghargai diri kita, niscaya keseimbangan itu akan terjaga. Ketika kita mampu menghargai dan menghormati alam, maka alam akan memberikan apa yang kita inginkan karena hukum timbal-balik akan berlaku. Simbiosis mutualisme akan bekerja, hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan akan terwujud.
Begitu banyak cara untuk menciptakan sebuah proses simbiosis mutualisme ini terus berjalan. Sebagai manusia kita telah di bekali akal dan pikiran, sehingga mempunyai daya-cipta-rasa dan karsa, dengan berlandaskan budi pekerti yang luhur maka manusia mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi alam. Salah satu hasil dari daya-cipta-rasa dan karsa adalah kebudayaan yang didalamnya terkandung nilai-nilai Kearifan Lokal yang erat hubungannya dengan pelestarian alam. Kearifan Lokal adalah bagaimana manusia yang bermasyarakat mampu menciptakan adat dan budaya melalui daya-cipta-rasa dan karsa secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai yang berbudiluhur sehingga mempunyai manfaat yang besar bagi  kesejahteraan hidup.
Hal ini dapat dibuktikan dengan terjaganya kelestarian alam dan lingkungan kampung-kampung masyarakat adat yang ada di sebagian daerah dan wilayah nusantara, seperti ; Yogyakarta dengan budaya jawa ; Masyarakat Bali dengan budaya Subaknya; Kampung adat Badui di Banten Selatan; Suku Anak Dalam atau Suku Kubu di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi; Kampung adat Cipta Gelar Abah Anom, Sukabumi. Mereka telah menjalankan budaya Kearifan Lokal puluhan tahun yang lalau, bahkan mungkin berabad-abad yang lalu. Nenek moyang mereka adalah manusia-manusia berbudiluhur yang taat pada adat, tradisi dan budaya secara turun-temurun. Mereka adalah manusia-manusia yang arif dan bijaksana, menghargai serta menghormati alam dan lingkungan. Itulah Kearifan Lokal yang mereka agungkan dan diwariskan secara turun-temurun. Tanpa didasari tekhnologi dan perkembangan ilmu pengetahuan, namun mampu menjadi pemecah kebuntuan permasalahan kerusakan alam yang sedikit banyak diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri.


Teori-teori yang mendukung Kearifan Lokal sebagai cermin budaya masa lalu

Kearifan Lokal adalah bagaimana manusia yang bersosial-masyarakat mampu menciptakan adat, tradisi dan budaya melalui daya-cipta-rasa dan karsa yang diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai yang berbudiluhur sehingga mempunyai manfaat yang besar bagi  kesejahteraan.
Masyarakat yang mampu mengaplikasi kearifan lokal secara bijaksana adalah manusia yang berbudiluhur, yaitu manusia yang mampu mengontrol moral dalam pikiran dan tingkah-lakunya dengan baik, sehingga mampu menempatkan dirinya di dalam kehidupan sosial bermasyarakat, dengan berlandaskan pada norma-norma yang berlaku di lingkungannya
Dengan demikian, peran Kearifan Lokal Masyarakat yang Berbudiluhur dalam sosial bermasyarakat sangat penting, dimana kehidupan sosial masyarakat itu sendiri mampu menciptakan adat dan budaya melalui daya-cipta-rasa dan karsa yang diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai moral dalam pikiran dan tingkahlakunya dengan baik dan dapat menempatkan dirinya di dalam lingkungannya dengan belandaskan pada norma-norma yang berlaku sehingga mempunyai manfaat bagi kesejahteraan alam dan lingkungannya.
I Ketut Gobyah dalam “Berpijak pada Kearifan Lokal”, Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
S. Swarsi Geriya dalam “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali” mengatakan bahwa secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga.
Dalam pengertian bahasa, kearifan lokal bisa diartikan kearifan/kebijakan setempat, yaitu kearifan setempat yang bersifat baik, bijaksana, arif dan mempunyai nilai budi pekerti luhur.
Terminologi Kearifan Lokal itu sendiri timbul belum lama, namun sejarah yang mendasari berlakunya Kearifan Lokal telah ada di masa lampau. Adalah nenek moyang kita dulu, yang memandang kehidupan melalui kacamata batin yang lebih religius yaitu sebuah tradisi turun-temurun yang mengajarkan kepatuhan hidup kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam alam. Sehingga dalam aplikasinya, mereka akan menjaga dan menghormati alam dengan keyakinan yang di wujudkan dalam bentuk adat, tradisi dan budaya. Di dalam adat, tradisi, dan budaya manusia hidup bersosial-masyarakat secara dinamis tapi tetap dalam koridor dogma dengan patuh. Didalam adat, tradisi dan budaya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang dalam bersosial-masyarakat.
Bentuk nyata dari daya-cipta-rasa dan karsa masyarakat yang berupa kumpulan gagasan atau ide-ide, nilai-nilai, norma atau peraturan adat, tradisi dan budaya, adalah bentuk abstrak/nonmaterial.
Sedangkan bentuk nyata dari daya-cipta-rasa dan karsa masyarakat yang berupa artefak atau benda sebagai sarana pendukung aktifitas sosial adalah bentuk nyata/wujud/materiil.
Ketika terjadi proses fusi antara kedua hal diatas maka tejadi aktifitas interaksi yang membentuk sistem sosial-masyarakat. Disinilah posisi kearifan lokal ada dan mampu bertahan dari benturan kemajuan jaman. Kearifan Lokal mampu menjawab permasalahan modernisasi dan globalisasi. Daerah atau kampung-kampung adat yang masih mengaplikasi kearifan lokal ternyata mampu mencapai kesejateraan dalam hidup bersosial-masyarakat, mampu bertahan, mengendalikan dan memberi arah bagi kesejahteraan masyarakatnya.


Data dan referensi yang mendukung Kearifan Lokal sebagai cermin budaya masa lalu.

Bumi Nusantara kaya akan khasanah budaya kearifan lokal yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Situs dan Artefak dari masa kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara mengisyaratkan bahwa norma, adat, tradisi dan budaya sangat dijunjung dan dihormati. Sudah seharusnya kita bangga, menjaga dan melestarikannya.
Kearifan Lokal sebagai cermin budaya masa lalu dapat dibuktikan dengan terjaganya kelestarian alam dan lingkungan kampung-kampung masyarakat adat yang ada di sebagian daerah dan wilayah nusantara, seperti ;
1.      Masyarakat Bali dengan budaya Subaknya dan Budaya Ajeg Bali
2.      Kampung adat Suku Baduy di Banten Selatan
3.      Suku Anak Dalam atau Suku Kubu di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi
4.      Kampung adat Cipta Gelar Abah Anom, Sukabumi.
5.      Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung Erstberg dan Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai bagian dari hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumber daya alam secara hati-hati.
6.      Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan tradisi tanam tanjak.
7.      Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana‘ ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan dilindungi oleh aturan adat.
8.      Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat. Masyarakat ini mengembangkan kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan rotasi dengan menetapkan masa bera, dan mereka mengenal tabu sehingga penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan.
9.      Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh Jawa Barat. Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat.
10.  Bali dan Lombok, masyarakat mempunyai awig-awig.

Kearifan lokal merupakan suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang profan. Mereka telah menjalankan adat, tradisi dan kultur budaya Kearifan Lokal dalam kehidupan sosial bermasyarakat sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan mungkin berabad-abad yang lampau. Nenek moyang mereka adalah manusia-manusia berbudiluhur yang taat pada adat, tradisi dan kultur budaya secara turun-temurun. Mereka adalah manusia-manusia yang arif dan bijaksana, menghargai dan menghormati alam dan lingkungan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dalam bermasyarakat. Itulah Kearifan Lokal yang mereka jaga, hormati, agungkan dan di junjung tinggi karena kesadaran mereka bahwa apa yang telah diwariskan secara turun-temurun merupakan amanah.


Peranan Kearifan Lokal/Local Wisdom dalam kehidupan sosial masyarakat

Ketika sebuah masyarakat mampu menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya dalam menjunjung tinggi dan menjalankan kultur budaya, adat dan tradisi Kearifan Lokal, maka kesejahteraan akan mudah terwujud. Disinilah kita bisa melihat bahwa Kearifan Lokal yang di aplikasikan secara baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat, ternyata mampu menjawab kebuntuan perkembangan jaman yang seolah-olah stag atau berjalan tapi tanpa terarah.
Adalah bagaimana manusia yang bermasyarakat mampu menciptakan adat dan budaya melalui daya-cipta-rasa dan karsa yang diwriskan secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai yang berbudiluhur sehingga mempunyai manfaat yang besar bagi  kesejahteraan.
Menurut Prof. Nyoman Sirtha dalam “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa: nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus. Oleh karena bentuknya yang bermacam-macam dan ia hidup dalam aneka budaya masyarakat maka fungsinya menjadi bermacam-macam. Fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:
1.      Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
2.      Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia.
3.      Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara adat, kepercayaan dan pemujaan.
4.      Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
5.      Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
6.      Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
7.      Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara pemujaan dan pensucian roh leluhur.

Dari penjelasan fungsi-fungsi tersebut tampak betapa luas ranah kearaifan lokal, mulai dari yang sifatnya sangat teologis sampai yang sangat pragmatis dan teknis.
Kearifan lokal masyarakat yang berbudiluhur mampu menjadi penentu terciptannya tatanan kehidupan yang sejahtera karena terjaganya sebuah kondisi alam dan lingkungan yang seimbang. Banyak contoh kasus kehidupan kearifan lokal masyarakat berbudiluhur yang mampu mendukung teori diatas. Ketika sebuah kelompok masyarakat menerapkan teori diatas maka kesejahteraan dan keseimbangan hidup akan lebih terjaga.


Bila...

Kearifan Lokal adalah bagaimana manusia yang bermasyarakat mampu menciptakan adat dan budaya melalui daya-cipta-rasa dan karsa yang diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai yang berbudiluhur sehingga mempunyai manfaat yang besar bagi  kesejahteraan.
Manusia berbudiluhur adalah manusia yang mampu mengontrol moral dalam pikiran dan tingkah-laku dengan baik, sehingga mampu menempatkan dirinya di dalam masyarakat, dengan berlandaskan pada norma-norma yang berlaku di lingkungannya.
Dengan demikian, Kearifan Lokal Masyarakat yang Berbudiluhur adalah masyarakat yang mampu menciptakan adat dan budaya melalui daya-cipta-rasa dan karsa yang diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya dengan berpedoman pada nilai-nilai moral dalam pikiran dan tingkahlakunya dengan baik dan dapat menempatkan dirinya di dalam lingkungannya dengan belandaskan pada norma-norma yang berlaku sehingga mempunyai manfaat bagi kesejahteraan alam dan lingkungannya.
 Kearifan lokal masyarakat yang berbudiluhur mampu menjadi penentu terciptannya tatanan kehidupan yang sejahtera karena terjaganya sebuah kondisi alam dan lingkungan yang seimbang.
Banyak contoh kasus kehidupan kearifan lokal masyarakat berbudiluhur yang mampu mendukung teori diatas. Ketika sebuah kelompok masyarakat menerapkan teori diatas, maka kesejahteraanlah yang mereka dapatkan.
Sebut saja masyarakat adat Yogyakarta dengan budaya jawa; Bali dengan budaya Subaknya; Kampung adat Badui di Banten Selatan; Suku Anak Dalam atau Suku Kubu di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi; Kampung adat Cipta Gelar Abah Anom, Sukabumi. Kearifan Lokal yang berbudiluhur telah menjaga kesejahteraan hidup mereka dengan baik. Dari sana kita dapat mengambil banyak pelajaran yang mempunyai nilai-nilai berbudiluhur tinggi, yang apabila diterapkan dengan baik di tempat lain akan memberi pengaruh yang sangat bermanfaat. Kita hidup dengan budaya timur yang masih menjunjung tinggi adat dan budaya yang mempunyai kepedulian sangat besar terhadap kelestarian alam. Kendala tetap akan selalu ada mengingat kita hanya manusia biasa dengan berbagai kelemahan dan kekurangan, namun dengan usaha dan kemauan, kesempatan pasti ada. Hidup adalah tanggung jawab diri kita masing-masing. Ketika kita salah menentukan sebuah pilihan hidup, maka kegagalan yang akan kita temui. Usaha dan doa adalah jalan, selebihnya Tuhan punya kuasa.
Dari uraian diatas, kita bisa menelaah bahwa berbudi luhur dalam menghargai alam sangat besar pengaruhnya bagi keseimbangan hidup manusia dan lingkungannya. Apabila Kearifan lokal ini ditransformasi kan dalam kehidupan modern, maka keadilan dan kesejahteraan akan terwujud melalui timbal balik antara masyarakat dan lingkungannya. Simbiosis mutualisme akan bekerja dan terjaga., karena dalam Kearifan Lokal terkandung nilai-nilai, diantaranya; saling menghormati dan menghargai, keadilan dan kesejahteraan, kejujuran, kepercayaan dan kebijaksanaan, rasa syukur dan kerja keras dalam kebersamaan, serta nilai-nilai budi luhur yang lain. Sudah saatnya masyarakat moderen kembali mengangkat budaya Kearifan lokal yang mulai ditinggalkan, terkikis dan hilang oleh kemajuan jaman.



 Smoga...

Dunia atau alam semesta merupakan tempat dimana manusia hidup dan bermasyarakat. Sudah selayaknya kita mempunyai tanggungjawab untuk menjaga dan melestarikan. Sudah waktunya kita mengembalikan keseimbangan antara alam manusia dan lingkungan.
Akhir-akhir ini global warming telah melanda seluruh struktur alam, jika kita terus mengabaikan, maka kehancuran mengancam alam semesta ini. Kita harus punya kemauan bersama untuk menyelamatkan dengan berbagai upaya. Mereka, masyarakat adat yang telah berabad-abat menjalankan Kearifan Lokal yang Berbudi Luhur, mampu menjawab permasalahan Global Warming. Alangkah baiknya bila kita mau dan mampu mengaplikasikan budaya Kearifan Lokal dalam kehidupan modern.
Sekarang kembali ke dalam diri kita, sebagai masyarakat yang tinggal dan hidup dalam dunia modern harus berusaha untuk membantu mencegah kerusakan alam. Langsung atau tidak, sedikit banyak kita mempunyai andil yang besar atas kerusakan alam ini. Mulailah dari sekarang, mulailah dari hal kecil dan mulailah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Dasari perilaku kita dengan berbudiluhur dalam hidup. Hindari perilaku-perilaku yang berakibat kerusakan hutan dan lingkungan. Hemat energi, menjaga kebersihan lingkungan dan berperilaku hidup sehat, akan sangat membantu meringankan dan mencegah bertambah parahnya kerusakan alam. Jangan biarkan tangan-tangan tak bertanggungjawab merambah hutan dan menghancurkan kelestariannya. Cegah dan awasi. Dukung usaha untuk pelestarian alam.
Semoga kesadaran dan disiplin yang didasari dengan moral dan tingkahlaku yang berbudiluhur akan membawa kita pada kesejahteraan hidup serta kelestarian alam dan lingkungan.





Epilog
 
Semoga kearifan lokal mampu kita aplikasikan dengan kesadaran dan disiplin yang didasari moral dan tingkahlaku yang berbudiluhur sehingga mampu membawa kita pada kesejahteraan hidup serta kelestarian alam dan lingkungan.


~ooo~



Jakarta, 17 Januari, 2009
rayalangitrabbani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar